Pemerintah Hitung Dampak Anjloknya Harga Minyak ke Ekonomi & Harga BBM

Jokowi juga meminta jajarannya mengklakulasi dampak penurunan harga minyak dunia terhadap harga bahan bakar minyak (BBM).
Dimas Jarot Bayu
18 Maret 2020, 11:41
Jokowi Minta Menteri Kalkulasi Dampak Penurunan Harga Minyak Dunia .
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras.
Presiden Joko Widodo meminta para menteri menghitung cermat dampak penurunan harga minyak dunia. Harga minyak kini turun di bawah US$ 30 per barel akibat wabah corona dan perang harga Arab Saudi dengan Rusia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri dan jajarannya menghitung dampak dari penurunan harga minyak dunia terhadap perekonomian dalam negeri. Jokowi juga meminta jajarannya mengkalkulasi dampak penurunan harga minyak dunia terhadap harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun nonsubsidi.

"Saya minta dikalkulasi, saya minta dihitung dampak dari penurunan ini," kata Jokowi saat membuka rapat terbatas via video conference, Rabu (18/3).

Lebih lanjut, kepala negara pun meminta agar jajarannya bisa menghitung berapa lama penurunan harga minyak dunia akan terjadi serta memprediksi harga minyak ke depan.

(Baca: Lebih Selektif, Jokowi Sebut Industri yang Dapat Penurunan Harga Gas)

Advertisement

Dengan demikian, pemerintah bisa merespons penurunan harga minyak dunia dengan kebijakan yang tepat. "Kita  harus bisa memanfaatkan momentum peluang dari penurunan minyak ini untuk perekonomian negara kita," kata Jokowi.

Sekadar informasi, harga minyak terus merosot hingga di bawah US$ 30 per barel. Mengutip data Bloomberg pada Rabu (17/3) pukul 07.30 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 turun menjadi 28,94 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2020 berada di level US$ 27,00 per barel.

Anjloknya harga minyak dipengaruhi keputusan berbagai negara termasuk Amerika Serikat dan Kanada, bersama dengan negara lain di Eropa dan Asia membatasi pergerakan penduduk serta menutup beberapa tempat umum guna mencegah penyebaran virus corona.

Harga minyak semakin sulit terangat setelah Arab Saudi dan Rusia tetap terlibat perang harga. Ini terjadi setelah dua produsen utama tersebut gagal menyepakati rencana perpanjangan pembatasan produksi untuk mendukung harga minyak.

(Baca: Harga Minyak di Bawah US$ 30/Barel Imbas Virus Corona )

Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan ekspor minyak mentah kerajaan itu akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang dengan volume lebih dari 10 juta barel per hari. Pasalnya, Arab Saudi berencana untuk menggunakan lebih banyak gas daripada minyak mentah.

Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan akan mengambil kesempatan dari turunnya harga minyak untuk mengisi Strategic Petroleum Reserve (SPR). Hal ini lantas diikuti negara dan perusahaan lain untuk melakukan tindakan serupa untuk mengisi tangki penyimpanan.

American Petroleum Institute menunjukan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 421.000 barel pada pekan lalu. Begitu juga dengan persediaan bensin dan sulingan yang telah turun tajam.

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait