Uni-Charm Pasang PLTS di Empat Pabrik, Beralih 100% ke EBT pada 2030

Uni-Charm Indonesia telah memasang PLTS di satu pabriknya sebesar 6 MWp. PLTS akan dipasang pada empat pabrik dengan target 100% beralih ke energi terbarukan pada 2030.
Happy Fajrian
23 Juli 2022, 17:14
PLTS atap, xurya, uni charm, UCID
Xurya
PLTS atap buatan startup Xurya.

PT Uni-Charm Indonesia Tbk siap mengalihkan 8 juta kwh/tahun konsumsi listrik yang digunakan untuk pabriknya di kawasan industri Karawang, Jawa Barat, menjadi green energy atau energi hijau sebagai upaya pengurangan emisi karbon.

Presiden Direktur Uni-Charm Indonesia Yuji Ishii mengatakan telah bekerja sama dengan PT Xurya Daya Indonesia (Xurya) untuk memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tahun ini di Factory 1 di kawasan industri KIIC, Kabupaten Karawang.

“Pemasangan tahap 1 telah selesai awal Juli, dan direncanakan mulai beroperasi sebesar 6 MWp pada Desember 2022. Melalui upaya ini, sekitar 8 juta kwh dari energi yang digunakan dalam satu tahun akan beralih ke green energy,” katanya, Sabtu (23/7).

Ishii menambahkan bahwa dengan upaya ini pihaknya menargetkan untuk mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan dari pabrik sebesar 7,241 ton CO2e. “Kami akan melakukan pemasangan PLTS di 4 pabrik agar dapat mengurangi emisi gas CO2,” ujarnya.

Advertisement

Uni-Charm menjadikan Ethical Living for SDGs sebagai slogan perusahaan demi berkontribusi pada perwujudan masyarakat simbiosis dan pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals). Salah satu tema utama yang diangkat adalah penanganan terhadap pengaruh perubahan iklim yang telah menjadi masalah global.

Selain itu dengan penetrasi kebiasaan yang akan terhubung pada pembaruan dan konservasi energi di internal perusahaan secara luas, pihaknya berusaha mencapai target 100% beralih ke energi terbarukan pada 2030.

Dari 17 target SDGs yang dicanangkan, Uni-Charm berupaya berkontribusi pada target nomor 13 yakni memerangi perubahan iklim dan dampaknya dan matahari sebagai sumber alami. Ke depan pihaknya akan terus berusaha mengatasi masalah konservasi lingkungan dan sosial, serta berkontribusi pada perwujudan SDGs.

Sebelumnya, data Kementerian ESDM menunjukkan pemasangan PLTS atap di Indonesia masih sangat minim. Sampai dengan Mei realisasinya baru tercapai 6 megawatt (MW). Padahal tahun ini pemerintah menargetkan pemasangan PLTS sebesar 450 MW.

“Sekarang sudah triwulan kedua, baru sedikit,” kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana beberapa waktu lalu, Senin (9/5).

Dadan mengatakan hingga saat ini tercatat ada 5.300 pelanggan PLTS atap dengan total kapasitas 54 MWp. Jumlah ini diperkirakan lebih besar karena beberapa pelanggan yang sudah memasang PLTS atap belum dilengkapi dengan meteran ekspor impor (exim) dari PLN.

“Sudah banyak yang pasang sebenarnya , tapi belum ada meterannya. Jadi belum bisa dihitung berapa tambahannya,” ujarnya.

Dadan menjelaskan biaya yang harus dirogoh oleh calon komsumen PLTS atap sebesar Rp 14-17 juta per KWp. Harga tersebut sudah termasuk alat converter yang digunakan untuk pengolahan energi listrik. “Tapi itu di luar membeli meteran. Harganya Rp 1,7 juta yang harus dibeli ke PLN,” ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait