Vietnam Juga akan Raih Pendanaan Transisi Energi JETP Rp 217 Triliun

Vietnam akan mengikuti langkah Indonesia dan Afrika Selatan yang lebih dulu meraih pendanaan transisi energi JETP untuk beralih dari batu bara ke sumber energi terbarukan.
Happy Fajrian
18 November 2022, 10:55
vietnam, jetp, transisi energi, batu bara, pltu
ANTARA FOTO/REUTERS/Kham/pras/dj
Ilustrasi.

Vietnam dilaporkan semakin mendekati kesepakatan untuk pendanaan transisi energi melalui skema kemitraan transisi energi yang adil atau Just Energy Transition Partnership (JETP) seniai US$ 11-14 miliar atau Rp 170,7-217,2 triliun. Kabarnya, pendanaan tersebut akan dipimpin Inggris dan Uni Eropa (UE).

Dengan demikian Vietnam akan mengikuti Indonesia dan Afrika Selatan yang lebih dulu menutup kesepakatan pendanaan tersebut melalui JETP masing-masing senilai US$ 20 miliar (Rp 310,4 triliun) dan US$ 8,5 miliar (Rp 131,9 triliun) untuk beralih dari batu bara ke sumber energi terbarukan.

Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Vietnam dan negara-negara donornya, bakal mengumumkan kesepakatan tersebut pada KTT Uni Eropa-ASEAN pada 14 Desember. Sekitar US$ 5-7 miliar akan berasal dari pinjaman dan hibah publik, dengan sisanya dari sumber swasta.

“Sekitar 85% dari paket pendanaan telah disepakati, tetapi masalah dekarbonisasi sektor kelistrikan negara masih perlu diselesaikan,” kata salah satu sumber yang dikutip Energy Voice pada Jumat (18/11).

Advertisement

Vietnam dipahami telah menganalisis kesepakatan Indonesia, yang diumumkan awal pekan ini. Meski demikian sumber tersebut mengatakan bahwa orang-orang kunci di pemerintahan masih butuh untuk lebih diyakinkan.

Negosiasi juga diselimuti oleh kekhawatiran tentang berapa banyak dana yang akan diberikan berbasis hibah dan berapa banyak utang yang bersedia ditanggung oleh Vietnam, meskipun dengan tarif yang sangat lunak.

Juga belum jelas apakah kesepakatan dapat dicapai tanpa pembebasan aktivis lingkungan yang saat ini dipenjara di negara tersebut atas tuduhan yang disebut tidak benar.

Paket JETP Vietnam akan menjadi yang ketiga dari serangkaian kesepakatan besar untuk membantu negara-negara berpenghasilan menengah besar yang bergantung pada batu bara mempercepat transisi mereka ke ekonomi rendah karbon.

Kesepakatan Afrika Selatan senilai US$ 8,5 miliar adalah yang pertama, diumumkan pada KTT iklim COP tahun lalu, dengan rencana investasi ditandatangani pada pertemuan tahun ini di Mesir. Pakta Indonesia senilai US$ 20 miliar diresmikan pada KTT G20 di Bali pekan ini.

Dua paket transisi energi serupa sedang disiapkan untuk Senegal, dan India yang akan menjadi tuan rumah G20 tahun depan.

Batubara menyumbang sekitar setengah dari pasokan energi Vietnam. Namun negara tersebut memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 3.200 kilometer (KM) dianggap ideal untuk membangun pembangkit listrik tenaga angin.

Kemitraan ini juga akan melibatkan bantuan teknis tentang cara merampingkan peraturan terbarukan karena negara tersebut bertujuan untuk mencapai netralitas karbon pada pertengahan abad ini.

Seperti kesepakatan Indonesia, beberapa pembiayaan swasta dalam JETP Vietnam diharapkan disediakan oleh Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ), sebuah kelompok yang terdiri dari 550 lembaga keuangan dengan aset mencapai sekitar US$ 150 triliun atau lebih dari Rp 2.300 kuadriliun.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait