Jokowi Kantongi Investasi US$ 2,4 Miliar dari Amerika

Sektor makanan dan minuman mendapat injeksi paling besar.
Muchamad Nafi
27 Oktober 2015, 14:50
jokowi
Katadata | Arief Kamaludin

KATADATA - Walau lawatannya diperpendek, Presiden Joko Widodo berhasil meraih sejumlah rencana investasi Amerika Serikat di Indonesia. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani, yang turut dalam rombongan kenegaraan sejak akhir pekan lalu itu, mengatakan beberapa perusahaan asal Negara Paman Sam akan mengucurkan modal hingga US$ 2,4 miliar.

Dari jumlah itu, investasi terbesar ditujukan ke sektor makanan, minuman, dan tembakau dengan nilai US$ 1 miliar. Dalam hilirisasi sektor agro, mereka akan menanam US$ 750 juta, lalu US$ 600 juta untuk kelistrikan, serta industri alat berat dan permesinan US$ 12 juta. "Untuk makanan, minuman, dan tembakau dalam bentuk perluasan investasi," kata Franky dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2015.

Menurutnya, rencana investasi tersebut merupakan bagian dari kesepakatan bisnis Indonesia-Amerika Serikat dengan total nilai US$ 20 miliar. Melihat angka tersebut, Franky menyatakan puas lantaran target diversifikasi investasi tercapai. (Baca juga: Ke Amerika, Jokowi Cari Dana Bagi Industri E-commerce Lokal).

Sejak beberapa tahun lalu, investasi Amerika terbesar memang di sektor pertambangan. BKPM mencatat, dari 2010 hingga kuartal ketiga tahun ini, dari total investasi Amerika senilai US$ 8 miliar, sebanyak US$ 7,2 miliar atau 90 persen berada di pertambangan. Adapun realisasi investasi negara itu pada periode Januari hingga September 2015 mencapai US$ 855 juta.

"Sedangkan sektor perdagangan dan reparasi sebesar US$ 258 juta, makanan minuman US$ 167 juta, alat angkut US$ 142 juta, dan kimia serta farmasi US$ 56 juta," kata Franky. (Baca pula: Chevron Komitmen Lanjutkan Investasi di Indonesia).

Dalam lawatan tersebut, Presiden Jokowi juga sempat membahas beberapa hal terkait isu ekonomi antara lain pengembangan potensi ekonomi digital dengan Presiden Barrack Obama. Menurut Jokowi, Indonesia merupakan satu di antara negara yang memiliki potensi ekonomi digital terbesar di dunia. Oleh karena itu, sektor tersebut masuk dalam prioritas pengembangan ekonomi. Isu ekonomi lainnya yang diangkat yakni seputar minat Indonesia untuk bergabung dalam kesepakatan Trans Pacific Partnerships

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan rombongan Presiden memang dijadwalkan bertemu lima perusahaan modal ventura. Di antar pemilik modal besar itu yakni Sir Michael Moritz, bos Sequoia Capital, dan Queen of The Net Mary Meeker. Sequoia dikenal memiliki banyak portofolio investasi, seperti Apple, Google, YouTube, dan WhatsApp. Perusahaan-perusahaa investasi tersebut siap menyuntikan modal kepada beberapa perusahaan teknologi informasi Indonesia.

Anchor"Karena kita adalah pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, jadi ada pendekatan kepada masalah funding dan juga ekosistem," kata Rudiantara di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun, Jokowi akhirnya tidak ikut pertemuan tersebut. Dia mempercepat lawatan dan kembali ke Tanah Air untuk menangani masalah kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait