Strategi Jokowi Agar Indonesia Tak Masuk Jebakan Pendapatan Menengah

“Kita harus berubah dengan mengembangkan strategi baru, yang smart shortcut, yang out of the box,” ujar Jokowi.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
4 Juli 2020, 14:56
jokowi, kelas menengah, negara berpendapatan menengah, middle income, middle income trap, pendapatan nasional, pendapatan
Katadata/Donang Wahyu
Presiden Jokowi

Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengatakan banyak negara di dunia yang 'terjebak' dalam status negara berpendapatan menengah (middle income ) selama puluhan hingga ratusan tahun. Jokowi pun membeberkan sejumlah strategi agar Indonesia bisa keluar dari jebakan ini (middle income trap). 

Dalam laporan Bank Dunia per 1 Juli lalu, status Indonesia naik menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income country) dari negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income country).  Peningkatan ini terjadi karena Indonesia telah memiliki pendapatan nasional bruto (Gross National Brutto/GNI) sebesar US$ 4.050 pada 2019, naik dari posisi sebelumnya US$ 3.840.

(Baca: RI Naik Kelas, Jokowi: Harus Jadi Peluang Lepas Jebakan Kelas Menengah)

Capaian ini, kata Jokowi, patut disyukuri. Namun, Indonesia harus terus didorong untuk melangkah maju ke negara berpenghasilan tinggi (high income country), agar tak terus terjebak dalam status negara berpendapatan menengah.

Menurut Jokowi, untuk dapat kembali naik kelas, Indonesia membutuhkan infrastruktur yang efisien. Di antaranya berupa infrastruktur fisik maupun non-fisik yang diperlukan sebagai layanan dan fasilitas dalam perekonomian negara.

(Baca: Bank Dunia Naikkan Status Indonesia, Apa Keuntungannya?)

Indonesia juga perlu memiliki sistem kerja yang kompetitif, cepat, dan berorientasi pada hasil. "Ini semua terus kami upayakan,"  ujar Jokowi dalam video conference, peresmian pembukaan Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) Virtual Tahun 2020, Sabtu (4/7).

Selanjutnya, Indonesia juga membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, produktif, inovatif, dan kompetitif. Hal itu, menurut dia, merupakan posisi strategis bagi lembaga pendidikan tinggi yakni dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mencetak generasi muda yang produktif dan inovatif.

(Baca: RI jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas, Ini Harapan Kemenkeu)

Oleh karena itu, Jokowi menekankan bahwa dalam upaya meningkatkan kualitas SDM tidak bisa dengan cara-cara yang normatif alias biasa-biasa saja. Indonesia, ia melanjutkan, memerlukan strategi dan terobosan baru untuk 'melompat' lebih jauh. 

“Kita harus berubah dengan mengembangkan strategi baru, yang smart shortcut, yang out of the box,” ujar Jokowi. 

Ia pun mengajak para rektor universitas dan pelaku sektor pendidikan untuk memanfaatkan puncak bonus demografi yang akan dinikmati ke depan dengan mencetak generasi muda yang unggul dalam membangun Indonesia.

Apalagi, usia satu abad Indonesia sudah semakin dekat, yakni pada 2045. "Tinggal 25 tahun lagi, mari cetak sejarah dan buktikan kita tidak akan terjebak middle income trap, mari kita buktikan di 2045 kita mampu jadi negara berpenghasilan tinggi," ujar dia.

Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia terbaru per 1 Juli 2020 terdapat empat bagian pengelompokkan kelas dengan berdasarkan GNI per kapita. Pertama, kelompok pendapatan rendah di bawah US$ 1.036. Kedua, negara pendapatan menengah ke bawah US$ 10.36-4.045. Ketiga, pendapatan menengah atas US$ 4.046-12.535. Keempat, pendapatan tinggi di atas US$ 12.535.

Video Pilihan

Artikel Terkait