Upaya pemerintah menyehatkan atau merestrukturisasi Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Karya akan berdampak signifikan terhadap peringkat kredit perusahaan.
Bayang-bayang tekanan di sektor konstruksi pelat merah semakin nyata. Setelah lama berperan sebagai penggerak pembangunan infrastruktur, emiten BUMN Karya kini merugi.
Dua emiten BUMN Karya, yaitu PT PP dan WIKA, mencatatkan peningkatan rugi bersih yang sangat signifikan, hingga lebih dari 300%, dalam laporan keuangan tahun 2025.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia menjelaskan proses restrukturisasi BUMN Karya hampir rampung. Seperti apa perkembangan terbarunya?
Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) menyatakan terus mengkaji terkait penggabungan (merger) BUMN karya. Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf mengatakan target rampung akhir tahun.
WIKA akan melakukan divestasi atau melepas sejumlah aset yang dimiliki, meminta dukungan dari Danantara, serta lebih selektif menerima proyek untuk memperbaiki kinerja keuangan
Tiga emiten konstruksi pelat merah, PT PP Tbk (PTPP), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melakukan divestasi aset untuk menyelematkan kinerja keuangan.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengatakan tiga BUMN bidang karya sedang membangun tiga prototipe dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa anggaran negara.
PT Adhi Karya Tbk menghadapi kepercayaan publik yang rendah, tercermin dari hanya 10% pencapaian target dalam penerbitan obligasi terbaru untuk restrukturisasi utangnya.
Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan proyek infrastruktur yang dikerjakan BUMN karya sedang ditinjau ulang oleh Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.