Perusahaan manufaktur RI mencatat penurunan volume produksi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan pada April menjadi yang tercepat sejak Mei 2025.
Rilis terbaru BI mengungkapkan peningkatan PMI-BI terutama didorong oleh Komponen Volume Produksi yang menunjukkan peningkatan dari 53,46% pada kuartal IV 2025 menjadi 54,07% pada kuartal I 2026.
Kadin menilai kombinasi pelemahan permintaan (demand shock) dan tekanan biaya produksi (cost pressure) membuat laju ekspansi industri melambat signifikan dan mendekati batas stagnasi di level 50.
Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami tekanan pada akhir kuartal I-2026, seiring dampak perang di Timur Tengah terhadap pasokan bahan baku dan harga material.
PMI Manufaktur Indonesia mencatat angka optimis 53,3 di November 2025, menunjukkan ekspansi dan pemulihan ekonomi yang didorong oleh faktor domestik seperti kebijakan kendaraan berbasis baterai (BEV).
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengungkapkan penyaluran bantuan subsidi upah mendekati 80% target, sebagai solusi untuk penurunan PMI, mendukung pemulihan sektor manufaktur.
PMI Indonesia mengalami penurunan signifikan pada Juni 2025 karena meningkatnya tensi geopolitik antara Iran, Israel, dan AS, mempengaruhi pasokan bahan baku nasional.