BI menyebut mayoritas komponen pembentuk PMI-BI, yakni volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan masih menunjukkan ekspansi pada kuartal kedua.
Pemerintah diminta mempercepat realisasi belanja negara dan proyek-proyek strategis untuk menyerap lebih banyak produk dalam negeri guna merespons kontraksi pada PMI manufatur.
Penurunan PMI Manufaktur pada Juni menunjukkan tekanan terhadap sektor manufaktur masih cukup besar, baik dari sisi permintaan, produksi, biaya, maupun keputusan operasional perusahaan.
Perusahaan manufaktur RI mencatat penurunan volume produksi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan pada April menjadi yang tercepat sejak Mei 2025.
Rilis terbaru BI mengungkapkan peningkatan PMI-BI terutama didorong oleh Komponen Volume Produksi yang menunjukkan peningkatan dari 53,46% pada kuartal IV 2025 menjadi 54,07% pada kuartal I 2026.
Kadin menilai kombinasi pelemahan permintaan (demand shock) dan tekanan biaya produksi (cost pressure) membuat laju ekspansi industri melambat signifikan dan mendekati batas stagnasi di level 50.
Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami tekanan pada akhir kuartal I-2026, seiring dampak perang di Timur Tengah terhadap pasokan bahan baku dan harga material.
PMI Manufaktur Indonesia mencatat angka optimis 53,3 di November 2025, menunjukkan ekspansi dan pemulihan ekonomi yang didorong oleh faktor domestik seperti kebijakan kendaraan berbasis baterai (BEV).