Rupiah Dibuka Menguat pada Perdagangan Hari Pertama 2023

Abdul Azis Said
2 Januari 2023, 09:45
Petugas menghitung uang dolar AS dan uang Rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, KCU Melawai, Jakarta, Selasa (16/8/2022). Nilai tukar rupiah ditutup melemah 26,5 poin atau 0,18 persen ke Rp14.768 per dolar AS pada perd
ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc.
Petugas menghitung uang dolar AS dan uang Rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, KCU Melawai, Jakarta, Selasa (16/8/2022). Nilai tukar rupiah ditutup melemah 26,5 poin atau 0,18 persen ke Rp14.768 per dolar AS pada perdagangan Selasa (16/8), pasca pembacaan nota keuangan oleh Presiden Joko Widodo.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,5% ke level Rp 15.495 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar spot hari pertama 2023. Pergerakan rupiah akan dipengaruhi rilis data inflasi hari ini yang diperkirakan sedikit meningkat.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah dari posisi pembukaan ke level Rp 15.553 pada pukul 09.30 WIB. Meski demikian ini belum mencapai ke level penutupan akhir pekan lalu di Rp 15.573 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi terhadap dolar AS pagi ini. Yen Jepang menguat 0,08%, rupee India 0,09%, yuan Cina 0,94%, ringgit Malaysia 0,35%. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,02%, bersama won Korsel 0,65%, dolar Singapura 0,03%, dolar Singapura 0,06% dan dolar Hong Kong 0,04%, serta baht Thaipand yang stagnan.

Analis DCFX, Lukman Leong, melihat rupiah masih akan bergerak datar pada pembukaan perdagangan hari pertama 2023, dengan mayoritas pasar umumnya masih belum buka. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp 15.500-Rp 15.650 per dolar AS.

Jam operasional bursa Wall Street, Amerika Serikar baru dibuka pukul 09.30 pagi waktu New York, atau sekitar pukul 21.30 WIB, di mana jam perdagangan di Indonesia sudah tutup. Meski demikian, pasar akan menantikan data ekonomi domestik yang dirilis hari ini.

"Namun perhatian investor akan tertuju pada data inflasi bulan Desember Indonesia yang diperkirakan akan sedikit lebih tinggi," kata Lukman dalam risetnya, Senin (2/1).

Mayoritas ekonom melihat inflasi Desember secara bulanan akan lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya. Faktor pendorongnya yakni periode musiman libur Natal dan tahun baru (Nataru) yang mendororong kenaikan harga tiket pesawat hingga hotel dan wisata.

Di samping itu, harga sejumlah bahan makanan diperkirakan sedikit meningkat karena produksi menurun seiring memasuki musim tanam.

Meski demikian, inflasi secara tahunan pada Desember akan lebih rendah dari bulan sebelumnya. Ini mengindikasikan realisasi inflasi pada akhir tahun lalu lebih rendah dari perkiraan awal Bank Indoensia maupun pemerintah saat harga BBM naik.

Berikut perkembangan rupiah dua pekan terakhir, seperti tertera dalam grafik.

Reporter: Abdul Azis Said
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait