Ombudsman Bentuk Tim Investigasi Kasus Jiwasraya, Asabri, dan Taspen

Ombudsman membentuk tim investigasi untuk membongkar kejanggalan di tiga BUMN asuransi, yakni Jiwasraya, Asabri, dan Taspen.
Dimas Jarot Bayu
21 Januari 2020, 17:36
ombudsman, bumn asuransi, jiwasraya, asabri, taspen
ANTARA FOTO/Reno Esnir
Ketua Ombudsman Amzulian Rifai (kanan) mengatakan tim investigasi tiga BUMN asuransi akan dipimpin oleh Komisioner Ombudsman Alamsyah Saragih (tengah).

Ombudsman membentuk tim untuk menginvestigasi persoalan yang ada di tiga BUMN asuransi, yakni  PT Asuransi Jiwasraya, PT Asabri, dan PT Taspen.

Ketua Ombudsman Amzulian Rifai mengatakan, tim investigasi dibentuk karena pihaknya menemukan kejanggalan di tiga perusahaan pelat merah tersebut. Hal ini berdasarkan kajian awal yang dilakukan oleh Ombudsman.

“Karena berdasarkan hasil kajian kami, memang banyak yang aneh-aneh,” ujar Amzulian di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (21/1).

 (Baca: Kejaksaan Agung Duga Oknum OJK Terlibat dalam Korupsi Jiwasraya)

Kendati demikian, ia belum mau mengungkapkan temuan ombudsman tersebut. Ia meminta publik bersabar hingga investigasi selesai. 

Tim investigasi ini dipimpin oleh Komisioner Ombudsman Alamsyah Saragih. Tim ini akan mengundang pihak terkait untuk dimintai keterangan pada beberapa pekan mendatang.

“Kami nanti akan undang para pihak termasuk OJK dan seterusnya ya,” kata Amzulian.

(Baca: Tahap Awal, Rp 2 Triliun Dana Nasabah Jiwasraya Bakal Dikembalikan)

Amzulian berharap investigasi yang dilakukan tim Ombudsman ini bisa menyelesaikan berbagai persoalan di BUMN asuransi. Ia pun menyayangkan lunturnya kepercayaan publik akibat permasalahan yang dialami BUMN asuransi. “Sekarang orang malah kapok berasuransi padahal ini sangat potensial,” jelas dia. 

Asuransi Jiwasraya dan Asabri saat ini tengah menghadapi dugaan korupsi terkait penempatan investasi. Kasus Jiwasraya saat ini tengah ditangani Kejaksaan Agung, sedangkan Asabri tengah dalam penyelidikan kepolisian. 

Sementara itu, Taspen turut menjadi sorotan ombudsman lantaran hasil investasinya minus dalam dua tahun terakhir. 

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait