Belum Terungkap, 5 Misteri di Kasus Pembunuhan Brigadir J

Sedikit demi sedikit tabir yang melingkupi kasus kematian Brigadir J mulai diungkap Tim Khusus. Namun, masih ada beberapa yang masih misterius, apa saja?
Aryo Widhy Wicaksono
12 Agustus 2022, 16:10
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan pers terkait tersangka baru kasus dugaan penembakan Brigadir J, Jakarta, Selasa (9/8/2022).
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan pers terkait tersangka baru kasus dugaan penembakan Brigadir J, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Setelah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengumumkan Inspektur Jenderal Polisi Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, sejumlah fakta pun menjawab kejanggalan yang sebelumnya menyelimuti kasus ini.

Mulai dari rekayasa skenario untuk menutupi tindak pidana, rekaman CCTV, hingga alasan dan dugaan siapa dalang di balik kasus kematian Brigadir Yoshua.

Dalam kasus ini, sudah terdapat empat tersangka, yaitu Ferdy Sambo, Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada Eliezer, Brigadir Kepala Ricky Rizal, dan seorang sipil Kuat Maruf. Mereka diduga melakukan tindak pidana sesuai pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider 338 KUHP tentang pembunuhan, juncto Pasal 55 dan 56 KUHP tentang penyertaan atau persekongkolan.  

Meski beragam fakta baru mengemuka ke publik, beberapa persoalan masih belum tuntas terjawab. Berikut beberapa persoalan tersebut:

Advertisement
  • Dugaan Pelecehan

Pada awal kasus ini diumumkan ke publik, kepolisian menyebutkan adanya dugaan pelecehan terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.

Peristiwa tersebut yang diduga menjadi pemicu terjadinya aksi tembak menembak antara Brigadir Yoshua dengan Bharada Eliezer.

Namun pada konferensi pers Selasa (9/8) lalu, Kapolri telah menjelaskan bahwa tidak pernah terjadi aksi saling tembak terkait peristiwa ini. Skenario tersebut diduga dilakukan untuk menutupi peristiwa kematian Brigadir Yoshua.

"Tidak ditemukan fakta peristiwa tembak menembak seperti yang dilaporkan," kata Kapolri dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (9/8).

Ferdy Sambo dalam Perita Acara Pemeriksaan telah mengungkapkan alasannya membunuh Brigadir Yoshua karena didorong rasa amarah. Setelah mendapat laporan dari Putri Candrawathi, bahwa Brigadir Yoshua telah melakukan tindakan yang melukai harkat dan martabat keluarganya ketika di Magelang, Jawa Tengah.

KEDIAMAN FERDY SAMBO DIJAGA KETAT
KEDIAMAN FERDY SAMBO DIJAGA KETAT (Katadata / Wahyu Dwi Jayanto)

 

Sementara Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi Agus Andrianto menanggapi pertanyaan wartawan seputar dugaan pelecehan seksual tersebut usai konferensi pers di Mabes Polri.

Menurut Agus, para tersangka diduga melakukan pembunuhan berencana, sesuai pasal 430 KUHP. Jika melihat penerapan pasal tersebut, maka tindak pidana ini dilakukan atas unsur kesengajaan.

"Kalau Pasal 340 diterapkan, kecil kemungkinan itu terjadi," jelasnya di Mabes Polri, Selasa (9/8) malam.

Namun kepastiannya baru dapat terungkap di persidangan.

  • Pihak yang Menyembunyikan Barang Bukti

Salah satu kejanggalan dalam kasus ini saat pertama kali diungkap ke publik oleh Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan, adalah tidak adanya rekaman closed-circuit television (CCTV).

Kala itu, pihak kepolisian mengatakan, seluruh kamera yang terpasang di kediaman Ferdy Sambo mati karena dekodernya rusak.

Namun dalam perjalan waktu, ternyata ditemukan adanya rekaman CCTV yang merekam pada hari kejadian. Rekaman kamera pengawas pun menunjukkan beberapa fakta mengenai rangkaian peristiwa pada hari kematian Brigadir Yoshua, Jumat (8/7). Meski begitu, rekaman tersebut belum diungkap ke publik.

Hal yang dapat dipastikan dalam rekaman yang didapatkan adalah Brigadir Yoshua masih hidup ketika rombongan Ferdy Sambo dan Istri tiba dari Magelang ke Jakarta.

Fakta ini juga diperkuat dalam rekaman CCTV yang dirilis televisi CNN Indonesia TV. Terlihat Sambo, Putri, Bharada Eliezer, dan Brigadir Yoshua berada di rumah pribadi mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri yang berada di Jalan Saguling III.

Sambo dan Putri keluar dari rumah di Jalan Saguling III menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) pukul 17.00 WIB. Sedangkan Brigadir Yoshua dan Bharada Eliezer telah keluar satu jam sebelumnya.

CCTV di rumah Saguling kemudian juga memperlihatkan bahwa Putri kembali pukul 17.23 WIB. Sementara Sambo tak terlihat kembali bersamanya.

Selanjutnya, pada pukul 18.33 WIB, beberapa rekaman CCTV di sekitar kompleks Polri Duren Tiga merekam mobil dinas Satuan Reskrim Polres Jakarta Selatan melintas menuju TKP kematian Brigadir Yoshua. Selain itu, juga terdapat mobil Provos dan ambulans.

Polri pun secara internal mengusut dugaan adanya upaya menghalangi penyidikan, dengan menyembunyikan barang bukti. Polri telah memeriksa 31 personel atas dugaan melanggar kode etik profesi. Selain itu, mengurung 11 anggota dalam penempatan khusus di Mako Brimob.

Tak hanya itu, Kapolri juga memutasi 25 personel untuk memudahkan proses pemeriksaan menyangkut dugaan pelanggaran etika profesi ini. Beberapa nama yang dicopot dari jabatannya adalah Brigadir Jenderal Polisi Hendra Kurniawan dari Karo Paminal Div Propam Polri, Brigadir Jenderal Polisi Benny Ali dari Karo Provos Div Propam Polri, serta Kapolres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Budhi Herdhi.

PENGGELEDAHAN DI KEDIAMAN PRIBADI FERDY SAMBO
PENGGELEDAHAN DI KEDIAMAN PRIBADI FERDY SAMBO (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.)

 

  • Proses Autopsi

Satu lagi yang masih menjadi misteri adalah mengenai hasil autopsi jenazah Brigadir Yoshua. Sebelumnya, pihak keluarga korban menilai hasil autopsi pertama janggal, sehingga meminta dilakukan ulang.

Kejanggalan ini akibat adanya beberapa luka yang terdapat di jasad Brigadir Yoshua. Selain itu, keluarga sempat dilarang membuka peti jenazah korban untuk melihat kondisinya.

Akhirnya Kapolri memerintahkan agar proses autopsi kembali dilakukan. Proses ekshumasi sudah dilakukan pada 27 Juli 2022 lalu, dan hasilnya kemungkinan baru dapat diumumkan empat pekan setelah proses autopsi ulang dilakukan.

Proses autopsi ulang ini dilakukan tim gabungan yang terdiri dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, dan Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri.

Menurut Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, tidak ada rekayasa pada proses autopsi jenazah Brigadir Yoshua.

Dedi memastikan pihaknya akan segera mengumumkan hasil kesimpulan dari proses autopsi kedua dalam waktu dekat.

Sementara Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang turut terlibat dalam pengusutan perkara ini, meminta semua pihak menunggu hasil autopsi ulang untuk menyimpulkan penyebab kematiannya.

"Pertanyaan terbesar adalah apakah almarhum Yoshua ini meninggal semata-mata karena tembakan atau ada penyebab lain, saya kira itu harus dijawab secara scientific," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik di Jakarta, Jumat (5/8) pekan lalu, seperti dikutip Kantor Berita Antara.

Apalagi, tim yang ditunjuk melakukan autopsi ulang adalah para ahli yang kredibel di bidangnya.

  • Kronologi Peristiwa

Persoalan lain yang kembali menjadi misteri adalah soal kronologi peristiwa. Sebab kronologi awal yang disampaikan oleh Mapolres Metro Jakarta Selatan terbantahkan dengan adanya perkembangan penyidikan baru yang diungkap Tim Khusus bentukan Kapolri.

Awalnya, kepolisian menjelaskan kronologi kematian Brigadir Yoshua berlangsung setelah Putri Candrawathi berteriak karena diduga mengalami pelecehan. Setelah itu, Bharada Eliezer yang hendak mencari tahu asal suara teriakan, justru terlibat aksi salin tembak.

Akan tetapi beberapa fakta terbaru justru menyimpulkan adanya dugaan bahwa tindak pidana dilakukan dengan perencanaan sebelumnya.

Menurut Direktur Pidana Umum Mabes Polri, Brigadir Jenderal Andi Rian, hasil pemeriksaan penyidik menyimpulkan perencanaan dilakukan Ferdy Sambo bersama Brigadir Eliezer dan Brigadir Kepala Ricky Rizal.

Hal ini dilakukan ketiga tersangka setelah Ferdy menerima laporan dari istrinya bahwa Brigadir Yoshua melukai harkat dan martabat keluarga ketika di Magelang.

  • Motif Pembunuhan

Dalam pengakuannya, Ferdy Sambo telah mengungkap alasannya membunuh Brigadir Yoshua karena emosi. Meski begitu, Meski demikian, polisi belum menjelaskan secara gamblang motif dari pembunuhan ini.

Petunjuk soal motivasi pembunuhan keluar dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD. Mahfud mengatakan motivasinya cukup sensitif. "Karena sensitif, mungkin hanya bisa didengar orang dewasa," kata Mahfud dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, (9/8).

Namun Mahfud enggan menjelaskan lebih jauh. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu memilih menunggu konstruksi hukum yang dibuat Polri dalam kasus ini.

Senada dengan Mahfud, pada kesempatan terpisah Agus memastikan motif penembakan terhadap Brigadir Yosua akan terbuka saat persidangan. "Untuk menjaga perasaan semua pihak, biarlah jadi konsumsi penyidik," kata Agus di Mabes Polri, Kamis (11/8) seperti dikutip Antara.

Reporter: Antara, Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait