Mengenal Jamur Merang dari Budidaya sampai Resep Mengolahnya

Siti Nur Aeni
6 September 2021, 19:20
Mengenal Jamur Merang, dari Budidaya sampai Resep Mengolahnya
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Petani memanen jamur merang di Warunggunung, Lebak, Banten, Jumat (14/2/2020). Harga jamur merang pada tingkat petani di daerah itu turun dari Rp14.000 menjadi Rp11.000 perkilogram akibat permintaan berkurang karena kualitas jamur pada musim hujan dengan kandungan air yang tinggi lebih cepat membusuk.

Jamur menjadi salah satu bahan masakan yang cukup digemari. Ada banyak jenis jamur yang biasa diolah menjadi makanan lezat dan bergizi.

Jamur merang atau dalam bahasa Aceh disebut kulat jumpung menjadi salah satu jenis jamur yang banyak disukai. Teksturnya yang kenyal sangat cocok untuk diolah menjadi beragam jenis masakan. Selain sedap dimakan, budidaya jamur ini juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi limbah pertanian terutama sekam padi.

Advertisement

Apa Itu Jamur Merang?

Mengutip dari jabar.lintang.pertanian.go.id, jamur merang adalah jamur saprofit atau jamur yang bisa tumbuh pada substrat organik dari hewan atau tumbuhan yang sudah mati. Selanjutnya, substrat tersebut diubah menjadi zat yang mudah diserap. Jamur pangan ini pertama kali dibudidayakan di Tiongkok sekitar tahun 1560 dan masuk Indonesia sekitar tahun 1650. Berdasarkan klasifikasi jamur ini masuk dalam;

  • Kelas : Basidiomycetes
  • Subkelas : Homobasidiomycetes
  • Ordo : Agaricales
  • Famili : Plutaceae
  • Genus : Volvariella
  • Spesies : Volvariella volvaceae

Jamur ini biasa tumbuh pada media limbah organik karena memiliki kemampuan untuk mendegradasi limbah organik tersebut. Sehingga cara tersebut dapat digunakan untuk mengurangi limbah organik, terutama limbah sisa pertanian seperti sekam padi.

Budidaya Jamur Merang

Sama halnya seperti jamur lain, kulat jumpung ini juga tidak sulit untuk dibudidayakan. Dari laman jabar.lintang.pertanian.go.id, dijelaskan setidaknya ada lima tahapan yang harus dilakukan untuk bisa membudidayakan jamur pangan ini. Berikut penjelasannya.

1. Pembuatan Kompos

Tahapan budidaya jamur pangan diawali dengan pembuatan kompos. Tujuan dari pengomposan tersebut untuk mengaktifkan mikroflora termofilit (bakteri dan fungi) yang merombak selulosa, hemiselulosa, dan lignin, sehingga bisa lebih mudah dicerna jamur. Bahan baku utama dari media tanam pertumbuhan jamur ini yaitu jerami. Bahan-bahan tersebut bisa dikombinasikan dengan limbah organik lainnya seperti ampas aren, ampas tahu, eceng gondok kering, bekas kardus, dan limbah pertanian lainnya.

Selain bahan utama, media tanam dari kompos juga butuh bahan-bahan tambahan seperti bekatul, yang merupakan sumber karbohidrat, kapur untuk menetralkan media, serta kotoran ayam untuk meningkatkan kandungan nitrogen. Langkah-langkah untuk membuat media tanam jamur pangan berbentuk bulat ini, sebagai berikut:

  1. Keringkan jerami kemudian potong-potong kurang lebih 10 centimeter (cm).
  2. Cuci jerami dengan air mengalir selama kurang lebih 1 jam lalu tiriskan.
  3. Susun jerami dengan ketebalan kurang lebih 10 cm kemudian taburkan bahan tambahan (bekatul, kotoran ayam, dan kapur). Lalu susun lagi jerami dengan ketinggian sama dan taburkan lagi bahan tambahan. Ulangi terus tahapan tersebut sampai lapisan memiliki ketinggian sesuai dengan yang diinginkan.
  4. Tutup dengan plastik.
  5. Balikkan media pada hari ke 4 dan 8.
  6. Setelah 10 hari, cek dan lihat hasil pengomposan.

2. Sterilisasi

Setelah kompos jadi, proses selanjutnya yakni sterilisasi. Proses ini bertujuan mematikan mikroorganisme yang merugikan, serta menghilangkan aroma amoniak. Sterilisasi dilakukan dengan cara mengalirkan uap air panas selama kurang lebih 8 jam dengan suhu 70oC ke dalam wadah yang berisi media. Pastikan wadah tertutup rapat.

3. Penanaman bibit jamur

Penaman bibit jamur merang dilakukan dengan menaburkan bibit siap semai di permukaan dan lapisan tengah media tanam. Jumlah bibit yang ditebar akan mempengaruhi hasil, namun juga berpengaruh pada potensi tumbuhnya jamur kontaminan. Pertumbuhan jamur kontaminan bisa dicegah dengan cara sterilisasi peralatan yang digunakan. Selain itu, tangan pekerja yang menanam juga harus steril.

4. Masa inkubasi

Masa inkubasi adalah periode pertumbuhan miselium. Saat memasuki masa inkubasi, wadah harus ditutup rapat, karena pada proses ini oksigen yang dibutukan tidak begitu banyak. Suhu yang dibutuhkan saat masa inkubasi sekitar 35oC.

Memasuki hari keempat pembibitan, tempat perbanyakan atau wadah sedikit dibuka agar cahaya matahari dan sirkulasi udara bisa masuk ke ruangan tersebut. Hal ini dilakukan saat masa generatif atau penumbuhan calon tubuh buah.

Hal yang penting untuk diperhatikan saat pembentukan tubuh buah yaitu kadar karbon dioksida, kelembaban, dan kadar air yang cukup. Media tanam tidak boleh kering, namun jangan terlalu basah. Kadar air yang cukup ditandai adanya tetesan air jika media ditekan.

5. Panen

Jamur merang bisa dipanen setelh 10 hingga 14 hari dari waktu penanaman. Tanda jamur siap panen yaitu sudah masuk stadium kancing, jamur yang payungnya sudah mekar tidak banyak diminati konsumen. Untuk itu, penting memperhatikan waktu panen agar harga jualnya tidak rendah.

Pemetikan jamur harus dilakukan secara hati-hati agar miselium dan calon tubuh buah lain tidak rusak. Panen bisa dilakukan pagi dan sore hari selama 3 hari berturut-turut. Kemudian, setelah 1 minggu bisa dilakukan pemanenan lagi.

Kualitas hasil panen jamur sangat beragam. Jamur yang baik yaitu jamur yang masih dalam stadia kancing dengan diameter 3- 5 cm, warnanya putih coklat muda, dan tidak ada bagian yang rusak karena mikroorganisme lain. Jamur ini tidak tahan lama, jadi setelah panen harus langsung di pasarkan. Pada suhu ruang, jamur merang hanya bertahan 1-2 hari, dan di kulkas bisa bertahan 3-4 hari saja.

Manfaat Jamur Merang untuk Kesehatan

Jamur merang memiliki rasa yang lezat dan bisa diolah menjadi beragam jenis masakan. Kandungan gizi di dalam jamur ini juga cukup banyak. Melansir laman doktersehat.com diketahui dalam 100 gram jamur merang terdapat kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, serat, lemak, zat besi, ash, fosfor, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, asam folat, kalium, dan tembaga.

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement