Transaksi GrabFood - GoFood Asia Tenggara Diramal Rp 398 T pada 2025

Transaksi pesan-antar makanan seperti GrabFood dan GoFood di Asia Tenggara diramal US$ 28 miliar pada 2025. Nilainya melonjak tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Image title
10 September 2021, 20:30
grabfood, gofood, grab, gojek
shutterstock
Ilustrasi, platform pesan-antar makanan

Transaksi atau gross merchandise value (GMV) pesan-antar makanan seperti GrabFood dan GoFood di Asia Tenggara diramal US$ 28 miliar atau sekitar Rp 398 triliun pada 2025, berdasarkan riset Grab dan Euromonitor International. Nilainya melonjak tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Laporan bertajuk ‘Laporan Tinjauan Industri Pengiriman Makanan 2021’ itu disusun menggunakan metodologi pengumpulan berbagai sumber, validasi data, dan pemeriksaan silang informasi setiap responden. Riset mengacu pada data di industri pesan-antar makanan Asia Tenggara pada kuartal kedua.

Riset itu memperkirakan, GMV pesan-antar makanan di Asia Tenggara naik dari US$ 9 miliar tahun lalu menjadi US$ 28 miliar pada 2025. "Tiga kali lipat lebih tinggi," demikian dikutip dari laporan yang Katadata.co.id, Jumat (10/9).

Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) pengeluaran konsumen untuk pesan-antar makanan diperkirakan 24,4% selama 2021 - 2025. CAGR ini dua kali lipat lebih cepat dibandingkan 2016 - 2020.

Pertumbuhan pesat tersebut terdorong pandemi Covid-19. Ada sekitar satu dari empat atau 26% konsumen yang disurvei di Asia Tenggara merupakan pengguna baru.

Di Indonesia, ada 17% responden yang baru menggunakan pesan-antar makanan saat pandemi corona.

Berdasarkan riset, motivasi utama mereka mencoba layanan pesan-antar makanan yakni menghindari kegiatan makan di luar. Motivasi lainnya yakni meminimalisir kontak dengan orang lain saat memesan dan menikmati promosi eksklusif.

Riset itu juga menunjukkan, 78% konsumen di regional menggunakan layanan pesan-antar makanan seminggu sekali atau lebih selama Oktober 2020 - Maret 2021. Selain itu, 87% berencana tetap memesan meski pandemi usai.

Selain pandemi Covid-19, kenaikan transaksi pesan-antar makanan terdongkrak peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah. Juga karena adopsi ponsel pintar (smartphone) di kota-kota tingkat (tier) dua melonjak.

Group Managing Director for Operations di Grab Russell Cohen mengatakan, mayoritas transaksi pesan-antar makanan saat ini berasal dari kota-kota besar di Asia Tenggara. "Namun, dengan peningkatan infrastruktur dan konektivitas, kami percaya bahwa gelombang pertumbuhan berikutnya akan datang dari kota-kota kecil," katanya.

Riset juga menunjukkan bahwa Grab mendominasi pasar pesan-antar makanan di Asia Tenggara. GrabFood mempunyai pangsa pasar 50% tahun lalu.

Sebelumnya, perusahaan venture building berbasis di Singapura, Momentum Works juga mencatat bahwa GMV pesan-antar makanan GrabFood US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 83 triliun tahun lalu. Sedangkan GoFood dari Gojek US$ 2 miliar atau Rp 28 triliun.

Grab menyumbang hampir setengah dari total GMV pesan-antar makanan di Asia Tenggara sepanjang tahun lalu, meski ada pandemi corona. Urutan kedua ditempati oleh startup asal Jerman, FoodPanda dengan US$ 2,5 miliar. Perusahaan rintian ini beroperasi di beberapa negara di regional.

Disusul oleh Gojek dengan GMV US$ 2 miliar. Sedangkan, “total GMV pesan-antar makanan di Asia Tenggara naik 183% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 11,9 miliar pada tahun lalu,” demikian isi laporan, dikutip dari Tech In Asia, pada Januari (12/1).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait