Sayur & Buah Diminati, Tiongkok Jadi Importir Barang Terbesar di 2019

Sayuran yang diimpor dari Tiongkok tercatat sekitar US$ 588,4 juta atau meningkat 11,67% dibanding 2018.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
15 Januari 2020, 15:41
Sayur & Buah Diminati, Tiongkok Jadi Importir Barang Terbesar di 2019
Aktifitas bongkar muat kontainer di PT Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Tiongkok, masih menjadi pemasok barang impor terbesar tahun lalu dengan nilai sekitar US$ 44,5 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor nonmigas Indonesia secara kumulatif pada Januari hingga Desember 2019 mencapai US$ 148,8 miliar atau turun 6,30% dibanding tahun sebelumnya yang senilai US$ 158 miliar. Adapun Tiongkok, masih menjadi pemasok barang impor terbesar tahun lalu dengan nilai US$ 44,5 miliar.

"Dengan begitu, Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar dengan peran hampir 30%," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam Konferensi Pers di kantornya, Rabu (15/1).

Berdasarkan sepuluh besar komoditas HS 2 digit, sayuran menjadi komoditas yang mengalami peningkatan tertinggi di 2019 jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sayuran yang diimpor dari Tiongkok tercatat sekitar US$ 588,4 juta atau meningkat 11,67% dibanding 2018 sebesar US$ 526,9 juta.

(Baca: Ekspor-Impor Lesu, Defisit Neraca Dagang 2019 Turun jadi US$3,9 Miliar)

Barang impor lainnya dari Tiongkok yang juga mencatat peningkatan terbesar adalah komoditas buah-buahan dengan kenaikan 9,83% dari US$ 741,4 juta menjadi US$ 814,2 juta. Kemudian disusul impor mesin dan perlengkapan mekanis dengan kenaikan sebesar 8,21%, dari US$ 9,8 miliar menjadi US$ 10,6 miliar.

Impor kendaraan dan bagiannya juga tercatat meningkat 5,71% dari US$ 1,01 miliar menjadi US$ 1,07 miliar di 2019, diikuti komoditas plastik dan barang dari plastik juga 3,45% menjadi US$ 1,81 miliar. Begitu pun dengan impor filamen buatan Tiongkok yang naik 3,36% menjadi US$ 997,8 juta pada tahun lalu.

Meski begitu, ada pula beberapa barang impor asal Negeri Panda yang turun pada tahun lalu, seperti bahan kimia organik yang turun 8,91%, mesin dan perlengkapan elektrik turun 8,43%, barang lainnya 4,61%, besi dan baja 3,16%, serta barang dari besi dan baja menurun 1,11% dibanding tahun sebelumnya.

(Baca: BI Perkirakan Neraca Dagang Desember 2019 akan Surplus)

Selain Tiongkok, BPS juga mencatat Jepang dan Thailand sebagai importir terbesar RI pada tahun lalu. Adapun Jepang berperan 10,47% terhadap total impor nonmigas 2019 senilai US$ 15,59 miliar dan Thailand sebesar 6,32% atau senilai US$ 9,41 miliar.

Di peringkat berikutnya, negara asal impor terbesar lainnya juga ditempati Singapura 6,17%, Amerika Serikat 5,44%, Korea Selatan 4,89%, Malaysia 3,9% serta Australia 3,14%.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait