Rupiah Kembali Melemah Tertekan Inflasi AS dan Kebijakan The Fed

 Zahwa Madjid
19 Maret 2024, 09:44
Rupiah
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU
Warga menerima uang rupiah baru yang ditukarkan pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (18/3/2024). Bank Indonesia (BI) menyiapkan 4.713 titik penukaran uang rupiah baru layak edar, untuk periode Ramadan dan Lebaran tahun 2024 yang juga menggandeng 16 bank untuk bekerja sama, dalam upaya memberikan layanan penukaran uang tunai.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rupiah kembali melanjutkan tren pelemahan pada Selasa (19/3). Nilai tukar rupiah tercatat turun 0,59% ke level Rp 15.690 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Pasar Uang Lukman Leong menilai, nilai tukar rupiah akan melanjutkan pelemahan seiring dengan kembali menguatnya dolar AS. Tak hanya itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS juga memberi sentimen ke rupiah.

“Penguatan dolar juga dipengaruhi oleh antisipasi investor akan ada potensi hawkish dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan besok,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Selasa (19/3).

Hawkish merupakan sikap atau kecenderungan bank sentral yang cenderung lebih agresif atau ketat terhadap pengetatan kebijakan moneter. Dalam hal, The Fed masih menahan suku bunga acuan di tengah kenaikan laju inflasi AS.

Dengan kondisi itu, Lukman memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak pada rentang Rp 15.650 - Rp 15.800 per dolar AS.

Inflasi dan Kondisi Geopolitik Pengaruhi Rupiah

Senada, Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra juga menilai rupiah masih melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS pada hari ini. Hal ini seiring dengan kenaikan inflasi AS sehingga mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lain termasuk rupiah.

“Pelaku pasar mungkin khawatir bahwa The Fed akan mengundurkan lagi waktu pemangkasan suku bunga acuan,” ujar Ariston.

Selain itu, masalah ketegangan geopolitik yang masih tinggi atas serangan Israel ke Palestina dan Rusia ke Ukraina juga mendorong penguatan dolar AS. Sehingga, dolar AS dinilai masih menjadi aset aman bagi para investor.

“Minat pasar terhadap aset berisiko juga terlihat menurun dengan sebagian indeks saham Asia terlihat bergerak negatif pagi ini. Ini bisa memberikan tekanan ke rupiah sebagai aset berisiko,” ujarnya.

Dia memperkirakan, pelemahan rupiah berpotensi ke arah Rp 15.750 per dolar AS dengan potensi support di level Rp 15.680 per dolar AS.

Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia pun menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Melansir Bloomberg, baht Thailand melemah 0,11%, ringgit Malaysia melemah 0,22%, rupee India melemah 0,02%, peso Filipina melemah 0,25%, dolar Singapura melemah 0,01%, dolar Hong Kong melemah 0,03%, dan yen Jepang melemah 0,09%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Zahwa Madjid

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...