Pasca Pencopotan Empat Direksi, Waskita Perbaiki GCG Perusahaan

Peningkatan tata kelola perusahaan Waskita salah satunya melalui penerapan whistle blowing system.
Image title
Oleh Fariha Sulmaihati
10 September 2019, 17:12
waskita karya, tata kelola perusahaan, gcg waskita, pencopotan direksi waskita
KATADATA/Arief Kamaludin
Gedung Waskita di Jakarta, Selasa (06/01).

PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah melakukan perbaikan internal perusahaan dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang lebih baik dan bersih sesuai dengan prinsip good corporate governance (GCG). Transformasi ini dilakukan pasca terjadinya kecelakaan proyek pembangunan yang berimbas pada pencopotan empat direksi Waskita pada tahun lalu.

Director of Human Capital Management & System Development Hadjar Seti Adji salah satu yang diterapkan perusahaan yakni Whistle Blowing System (WBS) yang mencangkup pengaduan, perlindungan, dan jaminan kerahasiaan pelapor, penanganan, pengaduan, pihak yang mengelola aduan, dan hasil penanganan serta tindak lanjut pengaduan.

"Setiap bulannya di awal rata-rata jumlah laporan satu atau dua, lalu meningkat, sekarang rata rata 20 laporan. laporan bervariasi. (Laporan) paling berat pelanggaran integritas," ujarnya, saat ditemui di Jakarta, Selasa (10/9).

Selain itu, Waskita mewajibkan seluruh pegawai mulai dari direktur hingga pada level kepala proyek yang memiliki fungsi strategis melaporkan harta kekayaannya kepada Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK).

(Baca: Kantongi Restu Kementerian BUMN, Waskita Karya Divestasi 9 Ruas Tol)

Hal ini sesuai dengan surat Keputusan Direksi No.32/SK/WK/PEN/2013 tentang Penetapan Pedoman Sistem LHKPN PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Adapun pada 2018 dari seluruh direktur dan kepala proyek yang berjumlah 306 orang, telah melaporkan seluruh harta kekayaannya.

Selain itu dari penilaian GCG yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap tahun buku 2018, menyatakan penerapan GCG Waskita telah memenuhi kesesuaian dan telah diimplementasikan dengan sangat baik berdasarkan kerangka acuan pelaksanaan GCG yang berlaku.

"Memang proses sosialisasi ini yang penting, manajemen yang baru telah melakukan banyak hal. Ini yang kami gencarkan," ujarnya.

Langkah perbaikan di internal juga dilakukan melalui penerapan aspek teknologi berbasis digital. Sehingga setiap kebijakan dilakukan cepat juga transparan. Hal ini dilakukan agar dapat bersaing dengan perusahaan lain, serta bisa menjadi perusahaan terbaik di bidang konstruksi.

(Baca: Waskita Karya Akan Kantongi Dana Pembayaran Proyek Rp 13 Triliun)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Video Pilihan

Artikel Terkait