Jelang Embargo Penuh, Eropa Masih Impor 1,7 Juta bph Minyak Rusia

Eropa dan Inggris masih menjadi pasar terbesar Rusia dalam menjual minyak mentahnya meski terus menurun pasca invasi ke Ukraina.
Happy Fajrian
29 September 2022, 19:02
minyak, rusia, eropa, inggris,
Dok. Chevron
Ilustrasi.

Negara-negara Uni Eropa dan Inggris berupaya menurunkan ketergantungannya terhadap pasokan energi Rusia. Hingga Agustus, UE dan Inggris telah berhasil menurunkan impor minyak mentah dari Rusia menjadi 1,7 juta barel per hari (bph) dari 2,6 juta bph pada Januari.

Menurut International Energy Agency (IEA), jelang embargo penuh impor minyak dan produk minyak Rusia pada Desember, UE masih menjadi pasar terbesar Rusia.

Adapun Inggris telah setop mengimpor minyak Rusia setelah invasi ke Ukraina dimulai, untuk memangkas pendapatan Rusia yang bisa digunakan untuk membiayai perang.

Amerika Serikat (AS) berpotensi menyusul Rusia sebagai pemasok minyak mentah utama ke UE dan Inggris secara gabungan pada Agustus. Menurut data IEA, impor AS hanya selisih tertinggal dari Rusia hanya 40.000 bph dibandingkan dengan rata-rata 1,3 juta bph sebelum perang.

Advertisement

Pasar Alternatif Pengganti Minyak Mentah Rusia

Beberapa bulan jelang embargo penuh, UE perlu mencari pasokan pengganti 1,4 juta bph minyak Rusia tambahan. “Sekitar 300.000 bph berpotensi berasal dari Amerika, dan 400.000 bph dari Kazakhstan,” kata IEA dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters pada Kamis (29/9).

Sama halnya dengan Rusia yang harus mencari pasar baru untuk menjual minyaknya. Di luar Uni Eropa, pasar ekspor minyak mentah utama Rusia saat ini adalah Cina, India dan Turki.

Ladang minyak terbesar di Norwegia, Johan Sverdrup, yang memproduksi minyak mentah medium-heavy mirip dengan Ural Rusia, juga berencana untuk meningkatkan produksi pada kuartal keempat, berpotensi sebesar 220.000 bph.

IEA mengatakan impor dari daerah lain seperti Timur Tengah dan Amerika Latin akan diperlukan untuk sepenuhnya memenuhi permintaan UE. Pasokan minyak Rusia akan terus mengalir ke UE melalui jaringan pipa karena larangan tersebut tidak mencakup beberapa kilang di negara yang terkurung daratan.

Jerman, Belanda dan Polandia adalah importir utama minyak Rusia di Eropa tahun lalu, tetapi ketiganya memiliki kapasitas untuk membawa minyak mentah lintas laut. Namun, negara-negara yang terkurung daratan di Eropa Timur, seperti Slovakia atau Hongaria, memiliki sedikit alternatif untuk pasokan pipa dari Rusia.

Ketergantungan UE pada Rusia juga diperkuat oleh penguasaan kilang minyak terbesar di blok tersebut oleh perusahaan Rusia seperti Rosneft dan Lukoil. Menurut IEA, aliran minyak mentah Rusia, berdasarkan data pemuatan pada Agustus, naik dari bulan ke bulan ke Italia dan Belanda, di mana Lukoil memiliki kilang.

Pemerintah Jerman pada 16 September mengambil alih kilang Schwedt milik Rosneft yang memasok sekitar 90% kebutuhan bahan bakar Berlin. Pada hari yang sama, pemerintah Italia mengatakan pihaknya berharap Lukoil akan menemukan pembeli untuk kilang ISAB di Sisilia, yang merupakan seperlima dari kapasitas penyulingan negara itu.

Kendala Rusia Dalam Mencari Pembeli Baru

Rusia harus mencari pembeli baru untuk minyak mentah itu, yang mungkin membutuhkan harga murah dan persyaratan khusus, sementara juga menghadapi logistik yang lebih mahal untuk dikirim ke tujuan yang lebih terpencil.

“Minyak Ural Rusia selalu menjadi pilihan untuk pasar Eropa. Sekarang untuk mencapai pasar baru kita harus mengirimkan kargo ke luar Eropa di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang biaya transportasi, asuransi dan waktu,” kata seorang pedagang di pasar minyak Rusia, seperti dikutip Reuters, Selasa (27/9).

AS dan Uni Eropa juga tengah mengupayakan untuk menerapkan batas harga minyak Rusia, dengan alasan itu akan membantu mengurangi pendapatan untuk Moskow sambil menjaga harga energi global tetap rendah.

Namun Moskow menegaskan tidak akan menjual minyak ke negara-negara yang memberlakukan batasan dan para pedagang mengatakan mereka tidak dapat melihat tindakan itu berhasil.

“Rusia sangat tidak mungkin menerima batasan harga, itu tidak masuk akal bagi baik secara politik maupun ekonomi. Jauh lebih mudah baginya untuk menegosiasikan kesepakatan pribadi daripada secara terbuka menerima pembatasan harga yang ditentukan oleh Barat,” kata pedagang lain yang terlibat dalam perdagangan minyak Rusia.

Rusia mengekspor 8,85 juta ton minyak Ural pada Agustus dari pelabuhan-pelabuhannya di Eropa, di mana India, Cina dan Turki, yang diperkirakan tidak akan bergabung dengan embargo, membeli sekitar setengahnya, sementara sisanya pergi ke Eropa.

Rusia juga memasok Eropa dengan sekitar 3,2 juta ton minyak per bulan melalui pipa Druzhba. Rute tersebut secara teknis dikecualikan dari embargo karena Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko ingin terus membelinya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait