Exxon Gugat UE, Tolak Pajak Keuntungan atas Lonjakan Harga Energi

Exxon menilai pajak tersebut kontra produktif yang akan mempengaruhi keputusan investasi perusahaan di Uni Eropa di masa mendatang.
Happy Fajrian
29 Desember 2022, 12:27
exxon, uni eropa, ue, harga energi, harga minyak, pajak
Arief Kamaludin|KATADATA
Exxon menggugat Uni Eropa yang mengenakan pajak keuntungan tak terduga atas lonjakan harga energi dunia.

Perusahaan minyak internasional asal Amerika Serikat (AS) Exxon Mobil Corp menggugat Uni Eropa (UE) yang ingin menerapkan pajak yang lebih besar atas keuntungan dari lonjakan harga energi. Exxon beralasan UE tak memiliki otoritas untuk mengenakan pajak tersebut.

Lonjakan harga energi membuat perusahaan minyak dan gas (migas) internasional meraup keuntungan besar. Di sisi lain lonjakan harga tersebut mengerek inflasi di seluruh dunia hingga ke level tertingginya dalam sejarah. Hal tersebut mendorong seruan untuk mengenakan pajak yang lebih besar untuk sektor ini.

“Pajak keuntungan tak terduga (windfall profits) kontra produktif, menghambat investasi, dan merusak kepercayaan investor,” kata juru bicara Exxon, Casey Norton, seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (29/12).

Dia menambahkan bahwa Exxon akan memperhitungkan pajak ini dalam mempertimbangkan investasi bernilai miliaran euro pada proyek untuk memasok energi serta transisi energi Eropa di masa mendatang.

“Apakah kami akan berinvestasi di sini bergantung pada seberapa menarik dan kompetitifnya Eropa nantinya,” ujar Norton. Exxon telah menginvestasikan setidaknya US$ 3 miliar dalam satu dekade terakhir dalam proyek kilang di Eropa.

Proyek-proyek tersebut telah membantu Eropa menjaga pasokan energinya di tengah upaya untuk mengurangi impor komoditas energi dari Rusia. “Kami akan terus bekerja sama dengan para pemimpin UE untuk mengatasi masalah ini. Kebijakan yang bijaksana sangatlah penting,” tulis pernyataan Exxon.

Chief Financial Officer Exxon Kathryn Mikells mengatakan bahwa pajak laba tak terduga yang dikenakan Eropa dapat menelan biaya setidaknya US$ 2 miliar hingga akhir tahun 2023.

Perusahaan migas besar asal AS lainnya, Chevron Corp juga telah memperingatkan bahwa pengenaan pajak yang lebih besar akan mengurangi pasokan energi karena akan menghambat investasi perusahaan.

“Itu (pajak) bertentangan dengan maksud meningkatkan pemasok dan membuat harga energi lebih terjangkau,” kata kepala keuangan Chevron Pierre Breber kepada Reuters pada Oktober silam.

Exxon melaporkan laba bersih kuartal II sebesar US$ 1,79 miliar, meningkat hampir empat kali lipat dari US$ 4,69 miliar yang diraihnya pada periode yang sama tahun lalu.

Capaian ini juga melampaui catatan kinerja terbaiknya pada 2008 ketika harga minyak Brent memuncak pada US$ 147 per barel, serta kinerja kuartalan terbaik yang pernah dicapai pada 2012 dengan torehan laba bersih mencapai US$ 15,9 miliar.

Sementara itu Chevron membukukan laba bersih sebesar US$ 11,6 miliar pada kuartal II tahun ini, atau melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 3,1 miliar.

Harga penjualan rata-rata Chevron di AS untuk satu barel minyak mentah dan gas alam cair adalah US$ 89 pada kuartal tersebut, naik dari US$ 54 pada tahun sebelumnya. Harga penjualan internasional untuk minyak mentah adalah US$ 102 per barel, naik dari US$ 62 setahun sebelumnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait