Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh persepsi pasar terhadap disiplin fiskal, isu MSCI, hingga outlook negatif di sektor perbankan.
Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS lebih banyak dipengaruhi faktor domestik.
Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan sore ini, Senin (20/4), di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih bergejolak.
Nilai Tukar Rupiah diproyeksikan menguat terbatas terhadap Dolar AS didorong sentimen positif dari kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi yang dinilai meringankan beban APBN.
Nilai Tukar Rupiah diproyeksikan fluktuatif dan cenderung melemah terhadap Dolar AS, terdampak ketidakpastian global dari pernyataan Trump, meski ada potensi penguatan dari sentimen risk-on.
Nilai Tukar Rupiah diproyeksikan menguat terhadap dolar AS, berpotensi mencapai Rp 16.980, didorong meredanya ketidakpastian global dan meningkatnya minat investor.
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS hari ini, dipicu sentimen negatif pasar global dan kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
Nilai Tukar Rupiah dibuka melemah ke Rp 17.019 per dolar AS dipicu sentimen risk off dan kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai US$ 100 per barel.