Pernyataan Donald Trump untuk mencabut aturan wajib kendaraan listrik jika terpilih menjadi Presiden AS berpotensi membuat harga nikel dunia semakin tertekan.
Harga acuan nikel Indonesia naik 8,51% menjadi US$ 18.962,11 per ton metrik kering (dmt) pada Juni 2024. Kenaikan harga nikel ini terjadi sejak April dan sekaligus mengakhiri tren penurunan.
Harga nikel melonjak ke level tertinggi dalam hampir sembilan bulan. Harga mineral lainnya seperti tembaga, timah, dan aluminium juga naik cukup tinggi.
Rencana Cina untuk meningkatkan pembelian nickel pig iron untuk persediaan dalam negerinya memicu lonjakan harga nikel ke level tertinggi dalam tujuh bulan.
Tren koreksi harga nikel acuan masih berlanjut. Kementerian ESDM merilis harga acuan Maret 2024 di level US$ 16.021,67 per dmt, turun 0,8% dibandingkan harga Februari US$ 16.151 per dmt.
Goldman Sachs memperkirakan koreksi harga nikel dan mineral logam bahan baku baterai kendaraan listrik seperti kobalt dan lithium masih akan berlanjut tahun ini dengan masih berlebihnya pasokan.
Kemenko Marves menilai tutupnya tambang nikel di luar negeri dipengaruhi oleh dua faktor terkait daya saing, sehingga mereka tidak bisa menyalahkan Indonesia yang proyek nikelnya lebih kompetitif.