Barang Impor dan Harga Beras Ancam Target Inflasi di Akhir Tahun

Untuk mengetahui penyebab kenaikan harga beras di jaringan distributor, BPS akan melakukan survei persediaan beras di pedagang besar hingga rumahtangga.
Yura Syahrul
1 Oktober 2015, 17:10
Beras
Agung Samosir|KATADATA
Pemerintah perlu mewaspadai kenaikan inflasi yang disebabkan harga beras.

KATADATA - Meski pada bulan September 2015 terjadi deflasi sebesar 0,05 persen, pemerintah perlu mewaspadai kenaikan inflasi inti dan meningkatnya harga beras. Dua faktor ini bisa mengancam pencapaian target inflasi pada akhir tahun nanti yang sebesar 4,4 persen.

Penyebab kenaikan inflasi inti secara tahunan adalah pelemahan mata uang rupiah sehingga mengerek harga barang-barang impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi inti pada September 2015 sebesar 0,44 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,52 persen. Namun, inflasi inti secara tahunan naik dari 4,92 persen menjadi 5,07 persen.

Sekadar informasi, inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten di dalam pergerakan inflasi. Ini dipengaruhi faktor fundamental seperti permintaan-penawaran, faktor eksternal seperti nilai tukar, harga komoditas internasional, serta inflasi mitra dagang, dan faktor harga pedagang dengan konsumen. Sementara inflasi non-inti terdiri atas inflasi komponen bergejolak, seperti harga bahan makanan. Kemudian inflasi komponen harga yang diatur pemerintah, seperti harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif angkutan umum.

(Baca: Inflasi Inti Naik, Menkeu Minta BI Kendalikan Rupiah)

Bila komponen harga yang diatur pemerintah dan komponen harga bergejolak mencatat deflasi pada September 2015, komponen inti malah mengalami inflasi 0,44 persen. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, ancaman kenaikan inflasi inti bersumber dari barang-barang impor. Contohnya, mayoritas bahan baku untuk kendaraan bermotor masih diimpor. Selain itu, beberapa barang belum mampu diproduksi di dalam negeri.

“Yang masih mengancam dari sisi barang imported inflation karena rupiah melemah,” katanya seusai memaparkan data inflasi September 2015 di kantor BPS, Jakarta, Kamis (1/10).

Pengaruh impor produk dari Cina terhadap inflasi inti sebenarnya relatif kecil karena efek devaluasi mata yuang yuan. Namun, impor barang dari beberapa negara, seperti Jepang, Singapura, Thailand, Amerika Serikat (AS) dan Australia, berdampak besar terhadap laju inflasi inti. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, kenaikan inflasi inti menunjukkan pelemahan rupiah sudah dibebankan pengusaha kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang.

Selain itu, pemerintah perlu mencermati kenaikan harga beras. Kepala BPS Suryamin mengatakan, harga gabah di level petani pada September 2015 naik 3,7 persen dari bulan sebelumnya. Sedangkan harga beras medium di penggilingan dan di tingkat grosir naik masing-masing 2,27 persen dan 1,1 persen. Alhasil, harga beras eceran naik 2,04 persen.

Meskipun bobot beras terhadap inflasi sebesar 3,89 persen, dampak kenaikan harganya terhadap inflasi bisa ditekan oleh penurunan harga BBM sebesar 0,53 persen. Deflasi pada September 2015 juga disebabkan oleh penurunan harga pangan, seperti daging ayam, cabe merah, dan bawang merah. “Bensin (harganya) turun 0,53 persen. Bobot harga BBM (terhadap inflasi) 3,9 persen, hampir sama seperti beras,” katanya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menilai, pemerintah sebenarnya berhasil menekan harga pangan sehingga terjadi deflasi. Namun, kenaikan harga beras perlu ditelusuri lebih lanjut. Untuk mengetahui penyebab kenaikan harga beras di jaringan distributor, BPS akan melakukan survei persediaan beras di pedagang besar hingga rumahtangga. Jadi, pemerintah memperoleh informasi yang akurat untuk mengatasi kenaikan harga beras.

Menurut Josua, pelemahan rupiah akan mulai mempengaruhi harga bahan-bahan pokok. “Pelemahan rupiah sudah mencapai 4 persen dalam satu bulan,” katanya. Namun, dampaknya saat ini belum menjalar ke harga pangan karena adanya intervensi pemerintah.

Dia memperkirakan, pada Oktober nanti masih akan terjadi inflasi meski nilainya kecil karena dampak kekeringan. Inflasi juga akan terjadi pada Desember karena momen hari raya Natal dan tahun baru.

Alhasil, pada akhir tahun nanti, Josua menaksir inflasi bisa mencapai 4,5 persen hingga 5 persen. Taksiran ini lebih tinggi dari target inflasi pemerintah tahun ini sebesar 4,4 persen. Per September 2015, inflasi tahun kalender (year to date) sebesar 2,24 persen dan inflasi tahunan (year on year) 6,83 persen.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait