Pertamina Putuskan Tidak Menaikkan Harga Jual BBM Pertalite

Katadata | Arief Kamaludin
Pertalite
9/3/2022, 19.13 WIB

PT Pertamina memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite tidak mengalami penyesuaian. Ini sekalipun minyak mentah dunia terus melonjak akibat konflik Rusia dan Ukraina.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatarwata mengatakan, langkah itu diambil guna menjaga daya beli masyarakat yang banyak menggunakan Pertalite.

Namun, ia juga menyadari bahwa konflik Rusia dan Ukraina mendorong harga komoditas energi, baik minyak mentah, batu bara maupun gas. “Peningkatan harga minyak mentah dunia tentu berdampak terhadap APBN,” kata Isa dalam keterangan tertulis, Rabu (9/3).

Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas, termasuk Indonesian Crude Price (ICP), memang berdampak positif terhadap pendapatan negara, terutama Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Namun demikian, kenaikan harga komoditas itu juga berdampak terhadap belanja negara. “Terutama subsidi energi yang menjadikan ICP sebagai salah satu parameter utama dalam perhitungannya,” katanya.

Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia dan mengukur dampaknya terhadap APBN. Kemudian, mengambil kebijakan yang diperlukan secara menyeluruh dengan melihat dari sisi potensi penerimaan negara, beban terhadap belanja negara, serta konsekuensi bagi pembiayaan anggaran.

"Tentu saja, dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang saat ini baru pulih dari dampak Pandemi Covid-19,” kata dia.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman menambahkan, perusahaan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berperan mengelola energi nasional. Oleh karena itu, Pertamina sangat mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, khususnya dalam penetapan harga produk BBM.

“Kami sepenuhnya mendukung kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional,” ujar Fajriyah.

“Meski harga minyak dunia menembus US$ 130 per barel, Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memutuskan harga Pertalite akan tetap di harga jual Rp 7.650 per liter,” tambah dia.

Di satu sisi, harga Pertalite tidak mengalami perubahan sejak tiga tahun terakhir. Padahal porsi konsumsinya yang terbesar, yakni sekitar 50% dari total konsumsi BBM nasional.

Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan pembahasan untuk skenario kompensasi Pertalite agar stabilisasi harga dapat terjaga.

Untuk mengurangi tekanan lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap peningkatan biaya penyediaan BBM, Pertamina terus melakukan berbagai efisiensi di segala lini, termasuk menekan biaya produksi BBM dalam negeri.

Pertamina memaksimalkan penggunaan minyak mentah domestik dan mengoptimalkan penggunaan gas alam untuk penghematan biaya energi. Selain itu, meningkatkan produksi kilang untuk produk yang bernilai tinggi.

Penyesuaian harga produk juga dilakukan secara selektif, hanya untuk BBM Non Subsidi tertentu seperti Pertamax Series maupun Dex Series. Porsi konsumsi kedua produk ini hanya sekitar 15% dari total.

Kedua jenis BBM itu pun sebagian besar dikonsumsi oleh kalangan konsumen mampu dan pemilik kendaraan pribadi jenis menengah ke atas. Ke depan, harga BBM ini akan terus disesuaikan secara rutin mengikuti harga pasar, sesuai ketentuan Peraturan Menteri ESDM Nomor 62 tahun 2017.

“Pertamina sangat berhati-hati dalam menetapkan harga. Namun kami yakin segmen konsumen ini merasakan manfaat BBM berkualitas yang lebih hemat dan baik untuk perawatan mesin kendaraan,” katanya.

Reporter: Verda Nano Setiawan