Inpex Butuh Dua Tahun Untuk Sosialisasi Pengembangan Blok Masela

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

7/8/2019, 22.07 WIB

Inpex akan melakukan sosialisasi pengembangan Blok Masela hingga masa konstruksi yang ditargetkan mulai pada 2022.

blok masela, inpex corporation
SKK Migas
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dan President Direktur Inpex Indonesia Shunichiro Sugaya menandatangani Head of Agreement (HOA) Pengembangan Blok Masela disaksikan Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Hiroshige Seko, dan CEO dan Presiden Direktur Inpex Corporation Takayuki Ueda di Jepang pada Minggu (16/6).

Inpex Corporation melalui anak perusahaan Inpex Masela Ltd membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mensosialisasi berbagai kebijakan dan program pengembangan Lapangan Gas Abadi Blok Masela. Vice President Corporate Services Inpex Masela, Ltd, Nico Muhyiddin sosialisasi akan dilakukan hingga memasuki waktu konstruksi pada 2022.

Nico menyebut sosialisasi akan dilakukan kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan berbagai kelompok kepentingan termasuk masyarakat di sejumlah desa yang terdampak pengembangan megaproyek Blok Masela. "Kami berharap dengan sosialisasi, seluruh komponen masyarakat, termasuk di desa-desa mengetahui dan memahami dengan jelas dan pasti tentang rencana kerja pengembangan Ladang Gas Blok Masela," kata Nico pada Rabu (7/8).

Nico menambahkan, rencana pengembangan proyek LNG Abadi akan terdiri dari pembangunan beberapa fasilitas utama, seperti pembangunan dan pengoperasian fasilitas sumur gas bawah laut (Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines/SURF) di lepas pantai Arafura. Inpex juga akan membangun fasilitas pengolahan (FPSO) di lepas pantai Arafura, pipa gas bawah laut (GEP) dari FPSO ke fasilitas penerima gas (GRF) di darat, dan fasilitas kilang OLNG (Onshore Liquefied Natural Gas) di darat.

(Baca: Babak Baru Investasi Migas Blok Masela)

Pengembangan Ladang Abadi Blok Masela merupakan investasi asing terbesar sejak 1968 dan simbol pembangunan di Indonesia Timur yang berskala global setelah Freeport Indonesia. Jumlah produksi gas alam dari Blok Masela sebesar 10,5 juta ton per tahun, mencakup sekitar 9,5 juta ton gas alam cair/LNG per tahun, dan gas pipa sebesar 150 mmscfd. Blok Masela juga akan memproduksi kondensat sekitar 35.000 barel kondensat per hari.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan Blok Masela akan mulai produksi pada 2027.  SKK Migas menetapkan asumsi harga minyak sepanjang produksi Blok Masela di kisaran US$ 65/barel, harga LNG berkisar US$ 7,4/ mmbtu, dan gas pipa US$ 6 per mmbtu. Dengan asumsi harga tersebut, pemerintah akan menerima sekitar US$ 39 miliar atau setara Rp 542,49 triliun sejak Blok Masela berproduksi pada 2027 sampai 2055.

(Baca: Hitungan Manfaat Ekonomi di Balik Kesepakatan Blok Masela Rp 277 T)

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha