Tak Perlu Bawa Gawai ke SPBU, QR Code MyPertamina Bisa Dicetak

Setelah mendaftar di MyPertamina, masyarakat akan mendapatkan QR Code yang dapat dicetak dan ditunjukkan di SPBU saat membeli BBM bersubsidi, tanpa perlu menggunakan gawai atau aplikasi.
Muhamad Fajar Riyandanu
8 Juli 2022, 14:29
mypertamina, pertamina, bbm, bbm subsidi,
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/rwa.
Petugas menunjukkan cara mendaftar di website sebelum membeli BBM bersubsidi di SPBU Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, Jumat (1/7/2022).

Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, mengatakan distribusi BBM bersubsidi Pertalite dan Solar hanya akan berlaku pada jenis kendaraan yang sesuai dan telah terdaftar di aplikasi MyPertmina.

Nicke menjelaskan, kendaraan-kendaraan yang lolos verfikasi MyPertamina akan memperoleh QR Code yang akan menjadi syarat bagi konsomen untuk membeli BBM bersubsidi. Adapun QR Code tersebut harus diperlihatkan kepada petugas SPBU "Karena subsidi ini melekat pada kendaraan," kata Nicke dalam siaran pers pada Jumat (8/7).

Menurut Nicke, QC Code tersebut dapat dicetak di kertas, dilaminating dan ditempel di kendaraan para konsumen untuk mempermudah transaksi di SPBU.

Langkah tersebut sekaligus menjawab keluhan dari sejumlah pihak yang menilai penggunaan Aplikasi MyPertamina bertentangan dengan aturan larangan membawa telepon genggang di SPBU. "Jadi tidak harus menggunakan gawai atau aplikasi MyPertamina saat membeli BBM bersubsidi,” sambung Nicke.

Advertisement

Sejak 1 Juli lalu, Pertamina mendorong masyarakat untuk mendaftarkan kendaraannya sebagai tahap awal untuk mendapatkan BBM Subsidi Solar atau Pertalite.

Adapun ujicoba awal program penyaluran Pertalite dan Solar secara tepat sasaran akan dilakukan di lima provinsi antara lain Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka upaya memastikan BBM Subsidi yang disalurkan Pertamina lebih tepat sasaran.

Ada tiga cara bagi konsumen yang ingin melakukan pendaftaran. Pertama, melalui laman subsiditepat.mypertamina.id. Cara kedua dengan aplikasi MyPertamina dan ketiga, masyarakat bisa datang langsung ke SPBU untuk dibantu mendaftarkan kendaraan.

Nicke menjelaskan, setelah tahap pendaftaran, pembatasan akan dilakukan setelah terbitnya revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

Nantinya, sesuai peraturan tersebut Pertamina dapat melakukan pengelompokan kendaraan yang berhak menerima BBM subsidi."Dalam implementasi pembatasan nanti, bagi kendaraan yang telah terdaftar dan dibuktikan dengan QR Code dapat membeli Pertalite atau Solar Subsidi. QR Code inilah sebagai dasar," jelas Nicke.

Anggota Komite BPH Migas, Saleh Abdurrahman mengatakan nantinya mobil dengan kapasitas mesin di atas 2.000 cc dan sepeda motor di atas 250 cc tidak boleh membeli Pertalite.

"(Larangan komsumsi BBM bersubsidi) kalau untuk mobil berdasarkan hasil kajian, saat ini yang cc-nya di atas 2.000 dan motor di atas 250 cc. Dan ini masih draf ya," kata Saleh saat dihubungi melalui pesan singkat WhatsApp pada Kamis (7/7).

Jika berdasarkan ketentuan besaran kubikasi mesin di bawah 2.000 cc, beberapa mobil yang masih boleh membeli Pertalite di antaranya:

  • Toyota: Yaris, Agya, Vios, Sienta, Avanza, Veloz, Calya, Raize, Rush
  • Honda: Brio, Brio RS, Jazz, Mobilio, BR-V, HR-V 1,5 L, HR-V 1,8 L
  • Daihatsu: Xenia, Luxio, Terios, Ayla, Rocky, Gran Max
  • Mitsubishi: Xpander, Xpander Cross, Eclipse Cross
  • Nissan: Grand Livina, Serena, Magnite
  • Suzuki: Igniz, Ertiga, XL-7, Baleno, SX4 S-Cros, APV
  • Wuling: Confero, Cortez, Almaz, Formo
  • Hyundai: Creta, Grand I10
  • Mazda: CX-3 Sport 1,5 L, Mazda 2 GT

Di luar merek-merek di atas, masih ada mobil dari pabrikan premium seperti BMW, Mercedes Benz, hingga Mini yang memiliki mobil dengan kubikasi mesin di bawah 2.000 cc. Tentunya ini harus menjadi perhatian pemerintah ketika menerapkan pembatasan berdasarkan parameter ini.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, menyebut penerapan penggunaan Aplikasi MyPertamina akan diperluas ke sejumlah wilayah dengan memperhitungkan antusiasme masyarakat yang mendaftarkan diri. Dia menjamin bahwa saat ini belum ada aturan pembatasan jumlah penjualan Pertalite.

"Untuk pendataan, melihat antusiasme masyarakat, (ujicoba awal program penyaluran Pertalite dan Solar dengan Aplikasi MyPertamina) juga dibuka untuk lokasi lain. Dari data yang masuk, banyak pendaftaran dari provinsi lain. Saat ini belum ada pembatasan (Pertalite), masih dalam tahap pendataan dan sosialisasi," tukas Irto.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait