Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran ke AS jika ada agresi terhadap tanker minyak atau kapal komersial Iran.
Iran mengerahkan "armada nyamuk" yang terdiri dari ratusan kapal cepat dan kapal selam mini untuk memperkuat kendali dan pertahanan di kawasan vital Selat Hormuz.
Iran mengklaim telah menangkap sebuah kapal tanker minyak dalam sebuah "operasi khusus" di Teluk Oman, sementara militer AS telah melumpuhkan dua kapal tanker yang akan masuk Pelabuhan Iran.
Angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal terhadap pasukan AS untuk membalas serangan negeri Paman Sam tersebut terhadap sebuah kapal tanker, Kamis (8/5).
Ketegangan di Selat Hormuz dorong harga minyak dan biaya produksi plastik, berdampak pada industri hingga ritel dan berujung pada kenaikan harga barang konsumen di Indonesia.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyampaikan operasi militer Operation Epic Fury terhadap Iran telah berakhir. Namun. AS tidak menghentikan seluruh aktivitas militernya.
Presiden AS Donald Trump meluncurkan Proyek Kebebasan untuk membebaskan kapal sipil yang terjebak akibat penutupan Selat Hormuz, agar bisnis pelayaran internasional dapat berlanjut.
Trump mengisyaratkan ia ingin melanjutkan blokade angkatan laut yang mencekik ekspor minyak Iran, dengan harapan hal itu akan membuat Teheran menyerah dalam beberapa minggu ke depan.