Pada September 2025, Indonesia mencetak surplus neraca perdagangan US$ 4,34 miliar, menandai 65 bulan surplus beruntun, didorong oleh ekspor komoditas nonmigas.
Paradoks dalam industri baja nasional berakar pada kenyataan bahwa sektor ini terbagi dalam dua segmen utama dengan fondasi dan dinamika yang sangat berbeda: stainless steel dan carbon steel.
RI mencatat surplus neraca perdagangan yang didorong oleh komoditas nonmigas namun sektor migas mengalami defisit. Kondisi ini memicu pemerintah untuk mempercepat program kemandirian energi.
BPS akan memperbarui jadwal rilis data neraca perdagangan, termasuk ekspor dan impor, dari pertengahan menjadi awal bulan mulai Juni 2025, guna meningkatkan kualitas data.
Surplus neraca perdagangan Indonesia yang besar terhadap AS menjadi penyebab Trump berencana mengenakan tarif resiprokal 32% terhadap produk Indonesia.
Indonesia berencana tingkatkan impor dari AS sebagai tanggapan kebijakan tarif impor Presiden Trump untuk menyinkronkan neraca perdagangan dan defisit.