Siasat Gojek dan Grab Saingi Tokopedia-Shopee yang Ikut Jual Makanan

E-commerce seperti Tokopedia dan Shopee menggencarkan penjualan produk makanan saat pandemi. Gojek dan Grab siapkan strategi khusus.
Image title
24 Juli 2020, 15:42
Siasat Gojek dan Grab Saingi Tokopedia-Shopee yang Ikut Jual Makanan
shutterstock
Ilustrasi, platform pesan-antar makanan

Perusahaan e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia mulai gencar menjajakan produk makanan dan minuman selama pandemi corona. Gojek dan Grab pun menyediakan strategi untuk bisa bersaing, dari sisi layanan pesan-antar makanan.

GoFood dan GrabFood sebelumnya menjadi andalan untuk membeli makanan dan minuman dari rumah. Saat ada pandemi virus corona, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner mulai berjualan di platform e-commerce.

Pelaku usaha menjual kopi literan hingga makanan siap masak di platform e-commerce. Meski begitu, VP Corporate Affairs Food Ecosystem Gojek Rosel Lavina menilai, persaingan di bisnis pesan-antar makanan merupakan hal wajar.

Apalagi, layanan itu memang kian diminati saat pandemi Covid-19. "Konsumen semakin mengandalkan platform atau layanan online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kuliner," kata Rosel kepada Katadata.co.id, Kamis (23/7).

Peningkatan permintaan layanan pesan-antar makanan itu dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

 

Oleh karena itu, Gojek menyediakan fitur ‘makanan siap masak’ pada April lalu. Transaksinya meningkat tiga kali lipat sejak diluncurkan.

Decacorn Tanah Air itu juga meluncurkan layanan pesan-antar bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari.

Namun, ada lebih banyak e-commerce yang menyediakan layanan serupa seperti Bukalapak, Blibli, Shopee dan Tokopedia. Startup digitalisasi warung, Wahyoo juga meluncurkan Langganan.co.id untuk menjual bahan pokok.

Belum lagi, layanan e-commerce kian diminati saat pandemi. Hal ini tecermin pada Databoks di bawah ini:

Grab juga meluncurkan kategori ‘makanan siap masak’. “Bukan hanya pelanggan, kategori ini juga membantu mitra penjual (merchant) beradaptasi," ujar Head of Marketing GrabFood Grab Indonesia Hadi Surya Koe.

Decacorn asal Singapura itu juga menawarkan paket menu pilihan hemat dan beragam promosi. Salah satunya paket 'hematlicious'.

Sama seperti Gojek, Grab menyediakan kebutuhan sehari-hari melalui GrabMart. "Kami berupaya untuk jeli menemukan cara-cara baru melayani pelanggan dan
menghadirkan peluang pendapatan baru untuk mitra kami," katanya

Grab juga mengandalkan pengelolaan manajemen end-to-end atas armada pengiriman. Selain itu, terus mengembangkan fitur baru yang relevan di tengah pandemi.

Sejauh ini, perusahaan mencatat transaksi GrabFood naik 10% sejak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi awal Juli lalu.

Selain itu, Gojek dan Grab makin serius mengembangkan bisnis cloud kitchen.

Cloud kitchen merupakan istilah layanan restoran berbasis komputasi awan (cloud). Konsumen tidak bisa membeli dan menikmati makanan maupun minuman di restoran. Produk hanya dapat dipesan secara online.

Grab mengembangkan cloud kitchen yang disebut GrabKitchen sejak 2018. Sedangkan Gojek menamai layanannya Dapur Bersama, yang dikembangkan sejak akhir tahun lalu.

Decacorn asal Singapura, Grab menargetkan bisa membangun 50 GrabKitchen di Jakarta, Bandung, Medan, dan Bali hingga akhir 2019. Pada Februari lalu, mereka meresmikan lima cloud kitchen di Surabaya, Jawa Timur.

Grab juga menghadirkan GrabKitchen di Singapura.

Sedangkan Gojek mempunyai 27 Dapur Bersama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Medan dan Bandung. “Kalau semua lancar, semestinya akhir tahun bisa 100 lokasi,” kata co-CEO Gojek Andre Soelistyo, beberapa waktu lalu (9/7).

Layanan cloud kitchen dinilai efisien dan efektif mendorong transaksi mitra penjual (merchant), utamanya saat pandemi Covid-19. Tidak heran jika Gojek dan Grab makin serius mengembangkan bisnis ini.

Dari sisi efisiensi, Gojek dan Grab mengandalkan insight dari data yang dikelola guna menentukan lokasi yang banyak peminatnya. Dengan begitu, kedua decacorn ini bisa mencari tempat yang biaya sewanya murah, namun potensi pembelinya tinggi.

Dari sisi transaksi, Andre mengatakan bahwa porsi layanan pesan-antar makanan melonjak dari 20-30% menjadi 70-80% saat pandemi corona. “Jadi penjualan dengan delivery jauh lebih efisien,” ujar dia.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait