Kurangnya koordinasi antar mitra penjual beras SPHP dengan TNI dan Polri menyebabkan turunnya minat masyarakat membeli beras tersebut, meski sejumlah saluran distribusi baru telah ditambah.
Bapanas menemukan 38% beras Bulog yang tersimpan lebih dari enam bulan turun kualitas, namun akan tetap didistribusikan dengan perlakuan khusus. Proses ini termasuk tes kelayakan konsumsi.
Bapanas mengalokasikan Rp 78 miliar untuk mendistribusikan jagung via SPHP, target utama distribusi adalah 80,000 Koperasi Desa Merah Putih, dengan tujuan stabilisasi harga dan peningkatan akses.
Bapanas mengumumkan bahwa pasokan Beras SPHP di ritel sudah stabil setelah sebelumnya sempat ada kelangkaan, dengan distribusi yang ditingkatkan oleh pemerintah.
Bapanas resmi memulai penyaluran SPHP untuk jagung yang difokuskan pada peternak di tujuh provinsi, seiring instruksi Presiden untuk menjaga harga di tingkat petani dan peternak.
Kenaikan harga beras diakibatkan oleh naiknya harga pembelian gabah dari Rp 6,000 menjadi Rp 6,500 per kg, yang disesuaikan dengan data produksi beras dan kebijakan Bulog.
BRIN dan Bapanas melakukan riset pengawetan pangan lewat teknologi iradiasi. Hal ini mendukung program Makan Bergizi Gratis alias MBG dan mencegah food loss.
Badan Pangan Nasional atau Bapanas memberikan sinyal penyatuan standar beras akan memiliki kebijakan harga yang dekat dengan Harga Eceran Tertinggi beras medium.
Bapanas menyatakan ada dua aspek yang menahan distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP, yakni perbaikan distribusi dan anggaran.