Bank Dunia mendorong investasi di sektor manufaktur bernilai tinggi untuk mendorong kenaikan lapangan kerja berkualitas dan kelas menengah di Indonesia.
Riset dari Ideas memperlihatkan bahwa penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia berimbas pada potensi penurunan nilai ekonomi kurban di 2025, dengan penduduk yang berkurban diproyeksikan berkurang
Jelang Lebaran 2025, konsumsi rumah tangga menurun drastis, dipicu oleh PHK massal di industri manufaktur dan perlambatan pertumbuhan upah, menurut studi dari CORE Indonesia.
Penurunan daya beli masyarakat Indonesia terjadi karena porsi kelas menengah turun drastis, berdampak pada penurunan impor barang konsumsi dan kontraksi penjualan eceran.
Survei KIC mencatat, kelas menengah menunjukkan perilaku keuangan yang positif. Mereka memilih bertahan hidup dari tabungan dan menjalani pekerjaan sampingan.
Wakil Menteri Keuangan Thimas Djiwandono meyakini kelas menengah di Indonesia tetap berpeluang meningkat dalam jangka panjang melalui insentif dan kebijakan yang akan digulirkan pemerintah.
Kondisi kelas menengah di Indonesia yang masih jauh dari kebebasan finansial terindikasi dari tiga aspek, yakni tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan berdasarkan survei KIC.
Survei KIC menunjukkan, kelas menengah di Indonesia memiliki pengelolaan keuangan yang cenderung baik sehingga keterbatasan mereka meningkatkan skala ekonominya lebih disebabkan oleh faktor eksternal.
Survei Katadata Insight Center menunjukkan, kelas menengah memiliki keterbatasan untuk menabung dan berinvestasi karena mayoritas pendapatannya habis untuk kebutuhan pokok dan membayar cicilan.
Kritik terhadap rencana penerapan cukai minuman berpemanis pada semester II 2025 menyoroti kelas menengah yang belum tepat di tengah upaya pemulihan daya beli kelas menengah.